Ia Sakit dan Ditelantarkan oleh Ke-3 Anak Tirinya! Begitu Dijanjikan Warisan, Mereka Baru Sadar!

Huang adalah seorang wanita yang sudah pernah menikah dua kali. Pernikahan pertamanya harus kandas di tengah jalan, saat umurnya masih 30 tahun. Kala itu suami pertamanya menceraikan dirinya karena tak kunjung dikaruniai keturunan.

Pada pernikahannya yang kedua, Huang memang memiliki tiga orang anak. Tapi ketiga anak itu adalah anak dari suami barunya, otomatis Huang langsung menjadi ibu tiri. Ketiga anak itu baru berumur 10 tahun, 8 tahun dan 6 tahun, dua orang laki-laki dan seorang perempuan.

Sponsored Ad

Memang tidak mudah menjadi ibu tiri, gumam Huang sambil menghela napas. Dia tidak berani memarahi ketiga anak itu sejak kecil, apalagi memukulnya, tidak pernah sekali pun. Ia takut salah sedikit saja nanti akan menjadi bahan perbincangan orang luar.

Namun hal ini justru dimanfaatkan oleh ketiga anak tiri tersebut. Mereka hanya bertingkah baik dan sopan, serta memanggil Huang dengan sebutan “mama” jika sang ayah sedang berada di rumah atau di sekitar mereka.

Sponsored Ad

Tapi begitu hanya ada Huang di rumah, mereka langsung bersikap tidak sopan dan tidak mau mendengar perkataannya. Bahkan mereka memanggil nama Huang jika ingin menyuruhnya melakukan sesuatu. Bagi mereka, Huang hanyalah orang luar. Ibu mereka sudah pergi dari dunia ini.

Namun, Huang tidak mengambil hati dengan sikap ketiga anak tirinya yang kurang ajar itu, ia memaklumi mereka semua masih anak-anak. Namun, Huang tidak mengambil hati dengan sikap ketiga anak tirinya yang kurang ajar itu, ia memaklumi mereka semua masih anak-anak.

Sponsored Ad

Tahun demi tahun berlalu, tak terasa ketiga anak itu kini sudah tumbuh dewasa. Mereka sudah bekerja di kota dan menjalani kehidupannya masing-masing. Jika ada hari libur atau waktu senggang, mereka akan kembali ke rumah untuk menjenguk sang ayah.

Namun setelah ayahnya telah tiada, mereka sama sekali tidak pernah kembali ke rumah. Huang yang semakin tua harus tinggal seorang diri dan mencukupi kebutuhannya. Ketiga anaknya tidak pernah memberinya uang atau mengirimkannya makanan.

Sponsored Ad

Namun Huang tidak merasa marah. Ia mengumpulkan bekas sampah untuk menyambung hidupnya hari demi hari. Huang berpikir kalau ketiga anaknya hingga kini belum bisa menerima dirinya sebagai ibu mereka.

Hingga pada suatu hari, Huang menelepon ketiga anak itu dan mengatakan kalau dirinya sakit. Ia juga mengatakan kalau dirinya tidak punya cukup uang untuk berobat sehingga mungkin hidupnya tidak akan lama lagi. Huang ingin ketiga anak itu datang menjenguknya dan mengantar dirinya ke tempat peristirahatan terakhir. Namun sayangnya, dari ketiga anak itu tidak ada satu pun yang mau datang menjenguknya.

Sponsored Ad

Hati Huang sangat hancur. Ya, sebenarnya Huang tidak sakit. Ia hanya ingin mengetes anak-anak itu, jika kondisinya parah apakah anak-anak itu mau mempedulikannya? Sayang sekali jawabannya tidak. Mereka sama sekali tidak peduli.

Lalu sebenarnya Huang juga tidak miskin, dia memiliki tabungan sejumlah Rp 300 juta pemberian dari suami pertamanya. Kemudian selama ini ia menabung dan terkumpullah sejumlah uang yang nominalnya cukup besar.

Sponsored Ad

Keesokan harinya Huang kembali menelpon ketiga anak tirinya dan mengatakan kalau ia akan memberikan warisan Rp 300 juta kepada anak yang pertama datang menjenguknya. Mendengar berita seperti ini, ketiga anak itu berlomba-lomba paling cepat untuk tiba di rumah.

Sore hari mereka sampai di rumah di waktu yang bersamaan. Mereka berlari berebut masuk, siapa yang dilihat oleh Huang duluan itu yang menang. Mereka berlari sekencang-kencangnya dan ketika tiba di kamar Huang, mereka terkejut.

Sponsored Ad

Huang tidak sakit, justru segar bugar dan tampak sehat. Ketiga anak itu tertegun sambil menatap Huang. Mereka bingung dengan apa yang terjadi saat itu. Kemudian Huang menyuruh mereka untuk masuk dan duduk.

Huang tersenyum menyambut kedatangan mereka. Kemudian ia menjelaskan kalau ini hanyalah sebuah tes. Selama ini, ia sudah menganggap ketiga anak tirinya sebagai anak kandungnya. Kini ia ingin melihat, apa reaksi anak-anaknya jika ia sakit?

Sedihnya adalah tidak ada yang peduli. Tapi begitu diiming-imingi warisa, mereka berduyun-duyun bahkan berlomba siapa yang lebih cepat datang. Sejujurnya Huang agak menyesalkan hal tersebut, tapi dirinya tidak mau ambil pusing.

Sponsored Ad

Dalam hatinya ia memang ingin mewariskan tabungannya itu kepada tiga anak tirinya. Huang mengeluarkan kotak yang berisi uang tersebut dan memberikannya secara adil kepada ketiga anak tersebut.

Begitu mengetahui perkara ini, mereka segera sadar dan malu. Mereka malu karena mereka datang menjenguk dengan alasan warisan. Padahal kalau diingat-ingat lagi, Huang memang baik terhadap mereka.

Meskipun ia adalah seorang ibu tiri, tapi dia tidak kalah baiknya dengan ibu kandung. Mereka tertunduk malu kemudian merangkul Huang dengan erat. Mereka menangis menyesali perbuatan mereka selama ini.

Mereka juga malu karena mereka sudah dewasa tapi tidak berpikir layaknya orang dewasa. Cara pikir dan sikap mereka terhadap sang ibu tiri sungguh sangat kekanak-kanakan. Tapi Huang bersyukur karena akhirnya ketiga anak tirinya itu sudah tersadarkan.


Sumber : erabaru