Awalnya Tak Ada Pembeli, Kini Pendapatan Ayam Penyet Everest Mencapai Rp 20 Juta Sehari!

Ketika ingin berwirausaha, hobi akan menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih jenis bidang usaha. Sama seperti Dewi Ariyani yang memiliki hobi bereksperimen dengan bumbu dapur.

Sponsored Ad

Hobi ditambah pengalaman di dunia kuliner selama 7 tahun membuat Dewi memulai usaha kuliner ayam penyet. Butuh perjuangan besar untuk membuat RM Ayam Penyet Everest yang ia buka 8 tahun lalu. Walau ia mempunyai pengalaman di bidang kuliner mulai dari Jawa, Sumatera, hingga NTB bukanlah jaminan usaha kulinernya langsung meroket sukses.

Sponsored Ad

Ia mulai bercerita saat usia 26 tahun, Dewi memberanikan diri untuk meminjam modal dari bank dan dari orangtuanya dengan total Rp 20 juta. Dari modal itu, Dewi membaginya untuk sewa tempat, membeli peralatan, bahan baku, hingga mencetak brosur. Akhirnya pada tanggal 10 Oktober 2010, RM Ayam Penyet  Abi & Ummi dibuka di Pondok Gede, Jakarta Timur.


Dewi memegang semua kendali rumah makan itu termasuk membeli bahan baku agar ia dapat memastikan makanan yang diproduksinya adalah kualitas terbaik. Karena semua dikerjakan sendiri, Dewi hanya tidur paling lama 5 jam sehari. "Closing jam 10 malam dan paling cepat tidur jam 12 malam karena harus prepare apa yang mau dibeli besok, lalu bangun jam 4 pagi. Start belanja jam setengah 5 dan buka jam 8 pagi," ucap Dewi.

Sponsored Ad

Sayang, jerih payah tersebut tidak menampakan hasil yang baik. Hari pertama dibuka rumah makan ini tidak mendapatkan pemasukan sepeser pun. Hari kedua jumlah pembeli hanya dapat dihitung dengan jari. Pendapatannya tidak sampai Rp 100 ribu. Jika rumah makan sedang ramai, pendapatan mencapai Rp 800 ribu saja.

Sponsored Ad


Melihat hal ini, Dewi sadar lokasi yang ia pilih kurang strategis. Hingga setelah 6 bulan bertahan, Dewi pindah ke Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan. Nama rumah makan pun berganti menjadi Everest dengan harapan rumah makan yang ia rintis ini lama kelamaan akan terus mendaki hingga setinggi gunung.

Sponsored Ad

Dari situ, pembeli terus berdatangan membuat bisnis kuliner ini semakin ramai hingga pembeli terpaksa mengantri panjang. Dewi memutuskan untuk melebarkan sayap dan membuka cabang rumah makannya. Awalnya ia hanya memiliki 3 orang karyawan, kini RM Ayam Penyet Everest telah membuka lapangan pekerjaan untuk 40 orang dengan pendapatan minimal mencapai Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per hari di kala ramai pembeli.

View this post on Instagram

Alhamdulillah, Paket Standar Nasi Kuning, RM Ayam Penyet Everest.. #ayampenyeteverest #ayampenyeteverestdepok

Sponsored Ad

A post shared by M Purwadi (@mpurwadi) on


Tak hanya ayam penyet saja, rumah makan ini juga menyediakan menu masakan lainnya seperti ikan, bebek, dan sayuran. Harga paket pun dibanderol tidak terlalu mahal mulai dari Rp 18 ribu hingga Rp 35 ribu dengan sambal super pedas yang menjadi andalan rumah makan Everest. Tiap hari rumah makan membutuhkan 100-200 ekor ayam kampung dan ayam negeri. Sementara ikan lele dan nila masing-masing 5-10 kg.

Sponsored Ad


Dewi paham bahwa kesuksesan bisnis kulinernya ini juga berkat kerja keras para karyawannya. Untuk mendekatkan hubungannya dengan karyawan, Dewi rutin mengajak makan 2x sebulan dan mengadakan acara kebersamaan 1x setahun. Dengan dukungan dan doa dari keluarga juga karyawan, Dewi terus bertekad untuk terus melebarkan sayap bisnis kulinernya ke beberapa daerah juga menambahkan variasi menu yang baru.


Sumber : Viva